Posting berikut hanya sekedar iseng saja berbagi cerita dan pengalaman, agar bisa dijadikan pelajaran bagi teman-teman semua dan termasuk saya.
Tanggal 1 September 2008 kemarin, kuliah pertama saya di semester tiga dimulai. Namun, kuliah belum bisa dikatakan “kuliah”, karena selain materi perkuliahan yang belum siap, dosen yang belum siap juga, mahasiswanya sendiri juga masih belum siap. Saya sendiri sih hari pertama sudah absen alias tidak masuk. Hehehe...
Nah, hari Kamis 4 September 2008 kemarin bisa dikatakan merupakan hari yang sial untuk teman kuliah saya. Sebut saja namanya Dian. Dian ini merupakan mahasiswi tela-t(bukan d)-an. Dia selalu memecahkan rekor berangkat terlambat kuliah di kelas saya, kecuali untuk mata kuliah yang dosennya sangat tegas menyikapi mahasiswa tela-t(bukan d)-an. Jika di-interview (baca: ditanya) mengapa selalu datang terlambat dia selalu menjawab dengan simpel, “Emang sejak SMA aku suka telat, kok! Gimana ya... Kalau datang nggak telat tu rasanya kaya ada yang hilang...” Alah Maaakkk!!! Tidak berbeda dengan mahasiswa lain yang juga cinta (baca: suka) datang terlambat, jika ditanya mengapa terlambat mayoritas jawabannya juga sama. Memang sudah membudaya ya datang terlambat itu?
Peristiwa Kamis sial kemarin berawal dari keterlambatan Dian pada mata kuliah bahasa Inggris. Karena masih awal pertemuan, dosen belum memberikan materi kuliah. Kuliah hanya diisi dengan perkenalan dari dosen dan mahasiswa. Setelah mengenal sekian banyak mahasiswa, datanglah si Dian.
“Maaf Pak, saya terlambat. Bolehkah saya masuk?” ucap si Dian.
“Boleh saja, asal kamu mau saya 'hukum' memperkenalkan diri kamu dalam lagu berbahasa Inggris.
“Hukuman” itu akhirnya disanggupi oleh Dian melalui lagu Twinkle Twinkle Little Star, daripada tidak diizinkan masuk kelas. Kan malu sama teman-teman. Malu???
“Twinkle Twinkle Little Star... My name is Dian Ratna Marliana...,” Dian sukses menyanyikan lagu tersebut dengan mengadakan pemaksaan nada pada bagian penyebutan namanya. Karena “pemaksaan” nada ini, teman-teman satu kelas dan dosen tertawa geli mendengarnya.
Setelah “eksekusi hukuman” dijalani Dian dengan “duka rela”, Dian dipersilakan duduk oleh dosen. Setelah duduk, Dian mengeluarkan buku tulisnya dan berbincang-bincang dengan teman di dekatnya. Setelah “eksekusi hukuman” kepada Dian, datang lagi seorang teman. Terlambat juga rupanya, si Dian gagal memecahkan rekor keterlambatan mata kuliah bahasa Inggris tersebut. Si Pemecah-Rekor-Baru ini kemudian “dihukum” dengan “hukuman” yang sama karena tindak pidana yang dilakukan sama dengan Dian. Namun, Si Pemecah-Rekor-Baru ini sukses melenggang menyanyikan sebuah lagu tanpa pemaksaan nada. Namun, tetap saja membuat tertawa terpingkal-pingkal karena suaranya yang segede gajah itu. Padahal, kalau sedang ngobrol biasa tidak “separah” itu suaranya.
Setelah Si Pemecah-Rekor-Baru duduk, kelas hening sebentar. Dian membuka buku catatannya. Dengan mengeluarkan mimik terkejut seperti melihat uang recehan jatuh (nggak sampai segitunya kali lihat uang recehan jatuh...), dia bersuara lirih alias berbisik kepada teman yang duduk di dekatnya, “Wa, sepertinya aku salah masuk kelas nih... Aku baru inget, aku kemarin nggak ambil bahasa Inggris...”
Oh My God, gubrak!!!!!! Buru-buru Dian meminta izin kepada dosen untuk keluar dan menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Semua kembali terpingkal-pingkal dibuatnya. Ampun, Tuhan... makhluk unik apakah yang Kau kirimkan kepada kami ini? God, adakah yang lebih gila dari dia? Hahahaaaa...
***
Yah, itulah sekelumit kisah lucu yang terjadi selama awal Ramadhan ini di kelas saya. Sudah sepantasnyalah kita berbenah diri di bulan suci ini menuju kepada hal yang lebih baik. Jangan sampai puasa tetapi masih menjadi mahasiswa tela-t(bukan d)-an. Jangan sampai deh kejadian seperti ini mengguncang psikologis kamu. Takutnya, saking malunya kamu malah bunuh teman. Eh, bunuh diri. OK, itu saja cerita singkat dari saya. Jangan lupa menulis komentar yah! Entah jayus apa lucu, yang penting keep posting at Ramadhan.













